Rabu, 29 September 2010

Mudik ke Solo, Ojo Lali Timlo Sastro

Foto: Istimewa. Grafis Yudha 
Dibaca : 205 kali | Komentar: 0
Solo, Warta Kota
Bila Anda jalan-jalan atau kebetulan mudik ke Kota Solo, Jawa Tengah, jangan lupa mampir ke Pasar Gede. Di sudut belakang pasar tua yang dibangun pada tahun 1930 itu ada satu warung yang tidak pernah sepi pengunjung, namanya Timlo Sastro.
Orang Solo lebih mengenalnya dengan nama timlo Balong karena lokasi Pasar Gede berada di sekitar Kampung Balong. Sejak tahun 1952, Pak Sastro, yang kini sudah almarhum, berjualan nasi timlo di tenda kaki lima di sebelah barat pasar.
Ia kemudian tergusur oleh renovasi pasar. Sejak tahun 1958 timlo Sastro menempati bangunan di sudut belakang Pasar Gede.
Timlo Sastro kini dikelola oleh keempat anak Sastro. Sejak pertama buka, warung timlo ini hanya buka dari pukul 06.30 hingga pukul 15.30. ”Saya tidak tahu kenapa, (aturan) itu dari bapak saya. Habis enggak habis warung kami tutup,” kata Ani Sriharyani (46), anak bungsu Sastro yang ikut mengelola warung.
Menurut Ani, timlo biasa dimakan untuk sarapan pagi. Tetapi, sekarang sudah banyak warung yang menjual nasi timlo hingga sore dan malam hari. Biasanya lagi, orang menjual timlo bersama menu masakan lainnya, tetapi warung timlo Sastro ini hanya khusus menjual timlo.
Warung warisan Sastro ini biasanya penuh pada pagi hari hingga menjelang makan siang. Pembeli harus antre bila ingin membeli makan pada jam-jam tersebut. Dulu Sastro sendiri yang memasak timlo yang akan dijualnya. Sekarang resep itu diwariskan kepada anak-anaknya.
Pada jam makan siang, deretan bangku di emperan warung penuh dengan penyantap. Bangku di emperan tampaknya lebih dipilih orang karena udaranya lebih segar daripada di dalam warung.
Jika tak sabar menunggu, bolehlah ”lari” ke cabang timlo Sastro di Jalan Wahidin, daerah Penumping, Solo, yang buka hingga pukul 22.00. ”Rasanya dijamin sama karena dari satu dapur,” kata Ani.
Sup plus soto
Bagi yang belum pernah mencicipi timlo, mungkin sulit membayangkan seperti apa rasa masakan ini. Gampangnya, rasa masakan ini gurih-gurih segar seperti soto. Namun, ada juga sebagian orang yang menyebut rasa timlo seperti sup atau bahkan gabungan rasa sup dan soto.
Kuah timlo memang bening seperti sup, tidak berwarna kuning seperti kuah soto pada umumnya. Menurut Ani, bumbu timlo sebenarnya sederhana saja, yaitu bawang putih, pala, lada, dan terakhir bawang goreng untuk taburan di atas nasi.
Kuah timlo yang terbuat dari kaldu ayam pekat ini dihidangkan dengan berbagai macam isi, seperti ati ampela, semur telur bebek berwarna kecoklatan, potongan daging ayam, dan sosis.
Namun, sosis ala Solo yang dipakai untuk campuran timlo ini bukan sosis berbentuk bulat panjang seperti biasanya, melainkan seperti martabak telur yang digoreng.
Pembeli yang suka seluruh isi timlo tadi bisa memesan timlo komplet dengan harga Rp 12.000. Kalau masih kurang, timlo Sastro juga menyediakan beberapa macam irisan brutu (pantat ayam) dan usus untuk campuran kuah timlo.
Timlo Sastro juga menyediakan ”paket hemat” yang dijual dengan harga Rp 6.500. Isi timlonya tentu saja berbeda, yaitu hanya nasi, kuah, dan irisan daging ayam tanpa embel-embel lainnya.
Satu mangkuk timlo sudah cukup mengenyangkan, apalagi bila dimakan dengan kerupuk kulit yang melar di perut jika terkena kuah hangat. Kata Ani, kerupuk kulit adalah teman paling cocok untuk makan timlo.
Mereka yang suka pedas bisa menambahkan sambal kecap kental yang rasanya menyengat dan menambah manis rasa kuah timlo.
Menikmati timlo Sastro, penyantap bisa menyeruput kuah panas timlo sambil menikmati musik keroncong dan campursari dari sekelompok pengamen.
Kelompok pengamen yang sudah 10 tahun bercokol di warung timlo itu bahkan menamai dirinya Orkes Keroncong Timlo Sastro. (luc/Kompas)

Lapar? Yuk, ke Kedai Swadharma
ilustrasi/Istimewa 
Dibaca : 499 kali | Komentar: 0
Tanahabang, Warta Kota
Bila Anda karyawan yang bekerja di sekitar kawasan Jalan Jend Sudirman, Anda tentu kenal dengan Kedai Swadharma di Jalan Abdul Jalil Raya. Jalan ini merupakan jalan penghubung antara Jalan KH Mansyur dan Jalan Jend Sudirman, atau lebih tepatnya di belakang Sudirman Park.
Di kedai ini banyak jenis pilihan makan siang yang bisa Anda nikmati seperti ketoprak gado-gado, soto, ayam bakar, dan sebagainya.
Kedai berukuran 50 m x 50 m ini menampung kurang lebih belasan pedagang dan di tengah area ada bangunan dua lantai di mana di lantai pertama ditempati warung Ayam Kalasan dan di lantai dua di tempati kantin makanan juga.
Kawasan ini menjadi persinggahan makan siang bagi karyawan-karyawan yang bekerja di sekitar kompleks perkantoran Sudirman terutama mereka yang bekerja di Gedung BNI 46. Dan mahasiswa The London School of PR yang kampusnya berada tidak jauh dari lokasi ini
Bangunan ini dulunya adalah tempat penampungan para pedagang yang dilarang berjualan di sepanjang Jalan Abdul Jalil Raya. “Dulunya tanah kosong, kita dulu jualan di sepanjang Jalan Abdul Jalil, lalu kan dilarang, terus kami ditampung sementara di tanah ini, lalu tahun 2000-an dibuatlah Kedai Swadarma ini,” tutur Ujang (43), salah satu pedagang di kawasan itu.
Kedai ini memang ramai pada saat makan siang saja, setelah jam makan siang atau sekitar pukul 15.00, pedagang mulai menutup kiosnya.
Bulan Puasa
Pada saat bulan Puasa, pada pedagang sebagian ada yang memilih berjualan penganan untuk buka puasa seperti kolak dan lontong sayur. “Kalau pas bulan Puasa ada yang tutup trus jualan kolak di sepanjang Jalan Abdul Jalil sampai ke depan BNI 46,” ujar Ujang yang sudah 6 tahun berjualan di situ
Jadi kalau Anda sedang terjebak macet sambil menunggu waktu buka Puasa ada baiknya lewat di Jalan Abdul Jalil Raya ini, karena banyak pilihan makanan untuk membatalkan puasa Anda. (CR2)

Makanan Rumahan di Atas Telaga
Warta Kota/ lilis setyaningsih 
Dibaca : 1954 kali | Komentar: 2
Jika Anda mencari rumah makan sekaligus tempat rekreasi bersama keluarga, Rumah Makan Saung Talaga di Depok bisa menjadi alternatif pilihan. Sesuai namanya, rumah makan ini ada hubungannya dengan talaga.

Tempat makannya memang berada di atas telaga atau danau. Di bawahnya banyak hidup ikan yang berenang ke sana kemari, dan akan bergerombol ketika ada pengunjung yang memberi makan.
Di luar itu, namanya juga rumah makan, tentu pengunjung ingin makan sebelum menikmati fasilitas yang disediakan Saung Talaga yang berada di Jalan Raya Sawangan, Depok, tersebut. Menurut pemilik Saung Talaga, Yani Wisnu (43), makanan yang disediakan adalah makanan rumahan.

”Yang kami sediakan makanan umum, makanan rumahan, bukan khas makanan sunda, misalnya, atau makanan yang istimewa. Jadi kalau di rumah mungkin malas memasak yang dibakar-bakar, kami menyediakan,” katanya ketika ditemui Warta Kota belum lama ini.

Makanan yang tersedia memang tidak asing di lidah kita. Begitu juga harganya relatif standar. Favorit pengunjung Saung Talaga adalah gurami, baik dibakar atau digoreng, dengan harga Rp 7.000/ons. Biasanya satu ekor gurami beratnya 7 ons sampai 1 kilogram (10 ons). Juga ikan mas goreng dan bakar yang harganya Rp 5.000/ons. Berat seekor ikan mas sekitar 6 ons. Ada juga karedok yang harganya Rp 7.000/porsi dan sayur asem Rp 5.000/porsi.

Jika tidak menghendaki ikan, tersedia juga ayam, baik digoreng maupun dibakar, yang harganya Rp 8.000/potong. Ada pula ayam peprek (ayam yang diberi bumbu cabe) yang harganya Rp 12.000/ potong. Aneka sate, baik sate ayam, sate kambing maupun sate sapi, juga tersedia dengan harga Rp 17.500/porsi hingga Rp 20.000/ porsi. Sop iga sapi pun ada, dengan harga Rp 17.500/porsi.

Juga tersedia aneka pepes, dari pepes ikan mas, pepes tahu, pepes jamur, hingga pepes peda. Harganya masing-masing Rp 7.000, Rp 3.000, Rp 4.000, dan Rp 6.000. Total tersedia 28 jenis makanan dan aneka minuman, serta camilan berupa peyek kacang dan kerupuk kulit, serta lalap dan aneka sambal.

Makan dan terhibur

Sementara tempat makannya berupa saung berbentuk memanjang, dihubungkan oleh papan kayu dan bambu. Meja ditata berderet, namun ada celah antarmeja. Tiap satu atau dua meja disediakan wastafel.

Sebagian besar tempat duduk yang tersedia lesehan. Dari 400 kapasitas tempat duduk, hanya sekitar 20 menggunakan kursi panjang. Jika akhir pekan atau libur, tempat duduk yang tersedia hampir selalu penuh.

”Kursi panjang ini sebenarnya cikal bakal Saung Talaga. Namun selanjutnya pengunjung lebih suka makan lesehan. Paling yang makan di kursi adalah ibu hamil, orang gemuk, dan orang tua yang susah untuk duduk lesehan,” kata Yani lagi.

Sebagian besar pengunjung datang ke Saung Talaga tidak sekadar menikmati makanannya saja. Banyak yang berlama-lama menikmati suasana di Saung Talaga. Baik ketika matahari sedang ’garang’ atau hujan turun, berlama-lama di atas saung memang menyejukkan. Apalagi ditiup oleh semilir angin yang ’membawa’ air. Terlebih ada ’hiburan’ ikan, monyet, dan organ tunggal serta perahu.

”Konsepnya memang rumah makan keluarga yang menyediakan makanan rumahan yang memadukan suasana alam pedesaan. Pengunjung bukan cuma makan tapi juga terhibur,” kata Yani. Jadi, makan di Saung Talaga perut kenyang hati senang. Mau apalagi?

Gurihnya Soto Santan Bogor
Warta Kota/Dian Anditya Mutiara 
Dibaca : 613 kali | Komentar: 0
Bogor, Warta Kota
Bila berkunjung ke Kota Bogor, jangan lupa mencicipi gurihnya soto santan yang banyak dijajakan di sana. Makanan itu seolah menjadi makanan khas Kota Hujan. Rasanya yang istimewa akan membuat siapapun ketagihan dan ingin kembali mencicipinya.
Meski banyak pedagang yang menjual soto santan, tapi ada yang beda dari Soto Santan H Djadja yang terletak di Jalan Mawar, Menteng, Bogor. Meski bersantan namun kuahnya sangat encer.
Tempatnya sederhana, hanya menyewa seperempat halaman rumah seorang keturunan Tionghoa. Karena berada persis di pinggir jalan, supaya tidak terlalu berdebu, di sekelilingnya ditutupi kain panjang.
Uniknya lagi, si penjualnya menyiapkan makanannya di bawah. Hanya menggunakan dua meja kecil yang sebenarnya bekas pikulan yang sudah tidak dipakai. Konsumen bisa memilih meja pendek yang berhadapan langsung dengan si pedagang atau di meja yang tinggi.
Sebelum duduk manis, pengunjung diminta terlebih dahulu untuk memilih isi soto yang akan disantap. Ada dua baskom yang berisi potongan kikil dan daging. Semuanya diambil dari bagian kaki dan kepala sapi. Terkadang juga tersedia babat, hanya saja jumlahnya tidak terlalu banyak.
"Babat cuma kita sediakan pada akhir pekan, Sabtu atau Minggu. Karena tidak semua orang suka dan kurang baik buat kesehatan. Jadi hanya sebagai selingan saja. Itu pun karena ada permintaan dari beberapa pelanggan," kata Sakdik, penerus ketiga dari Warung Soto Santan H Djadja.
Di baskom disediakan bambu yang ujungnya diruncingkan, dengan panjang kurang lebih 10 cm, untuk menusuk daging dan kikil yang dipilih. Rata-rata pelanggan yang datang mengambil antara tiga hingga tujuh potong dalam setiap sajian sotonya.
Memang soto ini tidak dijual per porsi, tetapi per potong. Sepotong harganya Rp 3.500. Kikil tersebut diletakkan di dalam piring sehingga Sakdik tinggal memotong-motong kecil.
Selanjutnya diberi taburan daun seledri dan bawang goreng, baru kemudian disiram dengan kuah santan yang tidak terlalu kental. Sedangkan nasi putihnya disajikan di piring terpisah.
Tidak lupa juga diberi taburan emping melinjo atau emping jengkol yang sebungkusnya hanya Rp 2.000. Tapi sebelumnya Sakdik akan menanyakan pelanggan yang bersangkutan, apakah ingin memakai emping tersebut ataukah tidak.
"Karena ada pelanggan yang memang tidak suka atau memang tidak boleh makan emping dengan alasan kesehatan. Makanya saya selalu tanyakan dulu sebelum menaburkannya," ujar ayah tiga anak ini.
Tanpa penyedap rasa
Perlu diketahui juga, kuah santan soto ini tidak menggunakan bumbu penyedap rasa. Air kaldu rebusan dari kaki sapi sudah membuat kuahnya begitu gurih. Tapi bagi orang yang memang menyukai rasa asin, sepertinya kuah yang disajikan kurang begitu pas garamnya. Sebaiknya memang ditambah sedikit lagi garamnya.
Sebagai penyempurna kuahnya bisa ditambahkan cuka atau jeruk limau. Tapi semenjak dahulu, para pelanggan Soto Santan H Djadja hanya suka dengan tambahan cuka. Mereka kurang menyukai jeruk meski menimbulkan aroma yang wangi.  
Warung ini hanya buka pada pagi hari, biasanya pukul 06.00-10.00. Lewat jam itu, bisa-bisa tidak kebagian. Tapi itu juga tergantung situasi, terkadang kalau sedang sepi, hingga pukul 12.00 pun masih buka.
Sakdik mulai memasak kepala dan kaki sejak pukul 14.00 sehari sebelumnya. Untuk mendapatkan kikil yang tidak berbau, dibutuhkan pencucian dan pemasakan yang cukup lama. Karena tidak terlalu percaya kepada pedagang daging, Sakdik lebih memilih untuk membersihkan sendiri bagian kepala dan kaki sapi.
Pencuciannya bisa sampai tiga kali. Setelah itu barulah direbus kurang lebih tiga jam. Sedangkan untuk kuahnya dibuat dadakan sebelum subuh.
Setiap harinya, warung soto ini membutuhkan 12 kg daging dan kikil bagian kepala, 4 kg bagian kulit dan 4 kaki sapi. Pada akhir pekan kebutuhannya meningkat menjadi 17 kg.
Sedangkan untuk nasinya diperlukan 17-18 liter beras per hari, dan kelapa untuk santan 14-15 buah. Kelapa yang digunakan jenis tasik yang lebih wangi. Ketika kuah soto matang, memang agak kental.
Tidak masalah, karena beberapa pelanggan memang suka dengan kuah kental. Tetapi lama kelamaan kuah menjadi encer dengan sendirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar