Sabtu, 20 November 2010

SUMPAH PEMUDA

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana
  12. Sahardjo
  13. Anwari
  14. Sarbini
  15. Arnold Manonutu
  16. Sarmidi Mangunsarkoro
  17. Assaat
  18. Sartono
  19. Bahder Djohan
  20. S.M. Kartosoewirjo
  21. Dali
  22. Setiawan
  23. Darsa
  24. Sigit (Indonesische Studieclub)
  25. Dien Pantouw
  26. Siti Sundari
  27. Djuanda
  28. Sjahpuddin Latif
  29. Dr.Pijper
  30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31. Emma Puradiredja
  32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33. Halim
  34. R.M. Djoko Marsaid
  35. Hamami
  36. Soekamto
  37. Jo Tumbuhan
  38. Soekmono
  39. Joesoepadi
  40. Soekowati (Volksraad)
  41. Jos Masdani
  42. Soemanang
  43. Kadir
  44. Soemarto
  45. Karto Menggolo
  46. Soenario (PAPI & INPO)
  47. Kasman Singodimedjo
  48. Soerjadi
  49. Koentjoro Poerbopranoto
  50. Soewadji Prawirohardjo
  51. Martakusuma
  52. Soewirjo
  53. Masmoen Rasid
  54. Soeworo
  55. Mohammad Ali Hanafiah
  56. Suhara
  57. Mohammad Nazif
  58. Sujono (Volksraad)
  59. Mohammad Roem
  60. Sulaeman
  61. Mohammad Tabrani
  62. Suwarni
  63. Mohammad Tamzil
  64. Tjahija
  65. Muhidin (Pasundan)
  66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67. Mukarno
  68. Wilopo
  69. Muwardi
  70. Wage Rudolf Soepratman
  71. Nona Tumbel
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
    di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
    Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
    Kong Liong.
  2. 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
    Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
    yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie
7 KEAJAIBAN DUNIA
1. Grand Canyon

Grand Canyon adalah sebuah jurang tebing-terjal, diukir oleh Sungai Colorado, di utara Arizona. Jurang ini merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan sebagian besar berada di Taman Nasional Grand Canyon; salah satu taman nasional pertama di Amerika Serikat. Presiden Theodore Roosevelt merupakan salah satu pendukung utama wilayah Grand Canyon, mengunjunginya dalam beberapa kesempatan untuk berburu singa gunung dan menikmati pemandangan alam yang luar biasa.

Jurang ini, diciptakan oleh Sungai Colorado memotong sebuah selat selama jutaan tahun, panjangnya kira-kira 446 km, dengan lebar mulai dari 6 sampai 29 km dan dengan kedalaman lebih dari 1.600 m. Hampir dari 2000 juta tahun sejarah Bumi telah terpotong oleh Sungai Colorado dan anak sungainya lapis demi lapis sedimen ketika Dataran Tinggi Colorado mulai terangkat.

Grand Canyon pertama kali dilihat oleh orang Eropa pada 1540, García López de Cárdenas dari Spanyol. Ekspedisi saintifik pertama ke canyon ini dipimpin oleh Mayor AS John Wesley Powell pada akhir 1870-an. Powell menunjuk ke batuan sedimen yang terbuka di jurang sebagai “daun dalam buku cerita agung”. Namun, jauh sebelum masa itu, wilayah ini telah ditinggali oleh Penduduk Asli Amerika yang membangun tempat tinggal di tembok jurang ini







2. Great Barrier Reef/Karang Penghalang Besar

Great Barrier Reef adalah kumpulan terumbu karang terbesar dunia yang terdiri dari kurang lebih 3.000 karang dan 900 pulau, yang membentang sepanjang 2.600 km. Karang ini berlokasi di Laut Koral, lepas pantai Queensland di timur laut Australia. Sebagian besar wilayah karang ini termasuk bagian yang dilindungi oleh Taman Laut Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef Marine Park).

Karang Penghalang Besar (KPB) dapat dilihat dari luar angkasa dan kadang disebut sebagai organisme tunggal terbesar di dunia. Pada kenyataannya, ia terbentuk dari berjuta organisme kecil, dikenal dengan sebutan polip koral (coral polyp). KPB dipilih sebagai sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1981.

Kekayaan biodiversitasnya, perairannya yang hangat dan jernih, serta keterjangkauannya dari fasilitas terapung yang disebut live aboards, membuat karang ini menjadi tujuan pariwisata yang sangat populer, terutama bagi para penyelam scuba. Banyak kota di sepanjang pesisir pantai Queensland yang menawarkan wisata laut ke karang ini setiap harinya. Beberapa pulau kontinental juga telah berubah fungsi menjadi resor.






3. Mount Everest

Mount Everest adalah gunung tertinggi di dunia (jika diukur dari paras laut). Rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet puncaknya berada di Tibet. Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 8.850 m. Gunung ini mendapatkan nama bahasa Inggrisnya dari nama Sir George Everest. Nama ini diberikan oleh Sir Andrew Waugh, surveyor-general India berkebangsaan Inggris, penerus Everest. Puncak Everest merupakan salah satu dari Tujuh Puncak Utama di dunia.






4. Air Terjun Victoria

Air terjun Victoria merupakan salah satu air terjun paling spektakuler di dunia. Air terjun ini terletak di Sungai Zambezi, yang pada saat ini membentuk perbatasan antara Zambia dan Zimbabwe. Air terjun ini memiliki lebar kira-kira 1 mil (1,6 km), dengan ketinggian 128m (420 kaki).

David Livingstone, penjelajah Skotlandia, mengunjungi danau ini pada 1855 dan menamakannya atas nama Ratu Victoria, sedangkan nama lokalnya adalah Mosi-oa-Tunya, “asap menggelegar.” Air terjun ini merupakan bagian dari dua taman nasional, Mosi-oa-Tunya National Park di Zambia dan Victoria Falls National Park di Zimbabwe, dan juga Situs Warisan Dunia UNESCO. Air terjun ini merupakan obyek wisata utama di Afrika Selatan.





5. Northern Lights

Salah satu keajaiban dunia adalah Northern Lights atau dikenal juga dengan istilah Aurora Borealis. Kejaiban cahaya warna-warni ini terbentuk akibat interaksi lapangan magnetik di Bumi dengan partikel matahari.





6.Volkano Paricutín

Volkano Paricutín, adalah sebuah gunung berapi yang terdapat di negara bagian Michoacan, Meksiko. Sebelum tahun 1943 gunung berapi ini tidak ada, namun tiba-tiba terdapat aktivitas vulkanik yang mengakibatkan orang-orang di sekitar sana mengungsi, gunung muda itu terus bertambah tinggi, dalam sehari menjadi 50 meter dan saat ini aktivitasnya bisa dikatakan berhenti, dan ketinggian gunung mencapai 336 meter.





7. Pelabuhan Rio de Janeiro

Rio de Janeiro (bermakna “Sungai Januari” dalam bahasa Portugis) adalah ibu kota Negara Bagian Rio de Janeiro di Brasil bagian tenggara.Kota ini mempunyai luas sebesar 1.256 km² dan penduduk sekitar 6.150.000 juta jiwa (2004).Sekitar 10 juta orang tinggal di wilayah metropolitan Rio de Janeiro Raya, yang saat ini merupakan kota terbesar keempat di dunia.

Letak pelabuhan Rio De Janeiro sangat unik yaitu tepat berada di ujung muara sungai antara pertemuan laut dan sungai, selain kota pelabuhan kota tersebut juga mempunyai letak dan pemandangan geografis yang sangat indah, Brazil ditemukan dan dijajah oleh portugis pada tahun 1565 sehingga budaya , bahasa, kebiasaan, juga makanan mengacu kepada negara portugal yaitu karena adanya ikatan batin antara dua negara tersebut.

Rabu, 29 September 2010

Mudik ke Solo, Ojo Lali Timlo Sastro

Foto: Istimewa. Grafis Yudha 
Dibaca : 205 kali | Komentar: 0
Solo, Warta Kota
Bila Anda jalan-jalan atau kebetulan mudik ke Kota Solo, Jawa Tengah, jangan lupa mampir ke Pasar Gede. Di sudut belakang pasar tua yang dibangun pada tahun 1930 itu ada satu warung yang tidak pernah sepi pengunjung, namanya Timlo Sastro.
Orang Solo lebih mengenalnya dengan nama timlo Balong karena lokasi Pasar Gede berada di sekitar Kampung Balong. Sejak tahun 1952, Pak Sastro, yang kini sudah almarhum, berjualan nasi timlo di tenda kaki lima di sebelah barat pasar.
Ia kemudian tergusur oleh renovasi pasar. Sejak tahun 1958 timlo Sastro menempati bangunan di sudut belakang Pasar Gede.
Timlo Sastro kini dikelola oleh keempat anak Sastro. Sejak pertama buka, warung timlo ini hanya buka dari pukul 06.30 hingga pukul 15.30. ”Saya tidak tahu kenapa, (aturan) itu dari bapak saya. Habis enggak habis warung kami tutup,” kata Ani Sriharyani (46), anak bungsu Sastro yang ikut mengelola warung.
Menurut Ani, timlo biasa dimakan untuk sarapan pagi. Tetapi, sekarang sudah banyak warung yang menjual nasi timlo hingga sore dan malam hari. Biasanya lagi, orang menjual timlo bersama menu masakan lainnya, tetapi warung timlo Sastro ini hanya khusus menjual timlo.
Warung warisan Sastro ini biasanya penuh pada pagi hari hingga menjelang makan siang. Pembeli harus antre bila ingin membeli makan pada jam-jam tersebut. Dulu Sastro sendiri yang memasak timlo yang akan dijualnya. Sekarang resep itu diwariskan kepada anak-anaknya.
Pada jam makan siang, deretan bangku di emperan warung penuh dengan penyantap. Bangku di emperan tampaknya lebih dipilih orang karena udaranya lebih segar daripada di dalam warung.
Jika tak sabar menunggu, bolehlah ”lari” ke cabang timlo Sastro di Jalan Wahidin, daerah Penumping, Solo, yang buka hingga pukul 22.00. ”Rasanya dijamin sama karena dari satu dapur,” kata Ani.
Sup plus soto
Bagi yang belum pernah mencicipi timlo, mungkin sulit membayangkan seperti apa rasa masakan ini. Gampangnya, rasa masakan ini gurih-gurih segar seperti soto. Namun, ada juga sebagian orang yang menyebut rasa timlo seperti sup atau bahkan gabungan rasa sup dan soto.
Kuah timlo memang bening seperti sup, tidak berwarna kuning seperti kuah soto pada umumnya. Menurut Ani, bumbu timlo sebenarnya sederhana saja, yaitu bawang putih, pala, lada, dan terakhir bawang goreng untuk taburan di atas nasi.
Kuah timlo yang terbuat dari kaldu ayam pekat ini dihidangkan dengan berbagai macam isi, seperti ati ampela, semur telur bebek berwarna kecoklatan, potongan daging ayam, dan sosis.
Namun, sosis ala Solo yang dipakai untuk campuran timlo ini bukan sosis berbentuk bulat panjang seperti biasanya, melainkan seperti martabak telur yang digoreng.
Pembeli yang suka seluruh isi timlo tadi bisa memesan timlo komplet dengan harga Rp 12.000. Kalau masih kurang, timlo Sastro juga menyediakan beberapa macam irisan brutu (pantat ayam) dan usus untuk campuran kuah timlo.
Timlo Sastro juga menyediakan ”paket hemat” yang dijual dengan harga Rp 6.500. Isi timlonya tentu saja berbeda, yaitu hanya nasi, kuah, dan irisan daging ayam tanpa embel-embel lainnya.
Satu mangkuk timlo sudah cukup mengenyangkan, apalagi bila dimakan dengan kerupuk kulit yang melar di perut jika terkena kuah hangat. Kata Ani, kerupuk kulit adalah teman paling cocok untuk makan timlo.
Mereka yang suka pedas bisa menambahkan sambal kecap kental yang rasanya menyengat dan menambah manis rasa kuah timlo.
Menikmati timlo Sastro, penyantap bisa menyeruput kuah panas timlo sambil menikmati musik keroncong dan campursari dari sekelompok pengamen.
Kelompok pengamen yang sudah 10 tahun bercokol di warung timlo itu bahkan menamai dirinya Orkes Keroncong Timlo Sastro. (luc/Kompas)

Lapar? Yuk, ke Kedai Swadharma
ilustrasi/Istimewa 
Dibaca : 499 kali | Komentar: 0
Tanahabang, Warta Kota
Bila Anda karyawan yang bekerja di sekitar kawasan Jalan Jend Sudirman, Anda tentu kenal dengan Kedai Swadharma di Jalan Abdul Jalil Raya. Jalan ini merupakan jalan penghubung antara Jalan KH Mansyur dan Jalan Jend Sudirman, atau lebih tepatnya di belakang Sudirman Park.
Di kedai ini banyak jenis pilihan makan siang yang bisa Anda nikmati seperti ketoprak gado-gado, soto, ayam bakar, dan sebagainya.
Kedai berukuran 50 m x 50 m ini menampung kurang lebih belasan pedagang dan di tengah area ada bangunan dua lantai di mana di lantai pertama ditempati warung Ayam Kalasan dan di lantai dua di tempati kantin makanan juga.
Kawasan ini menjadi persinggahan makan siang bagi karyawan-karyawan yang bekerja di sekitar kompleks perkantoran Sudirman terutama mereka yang bekerja di Gedung BNI 46. Dan mahasiswa The London School of PR yang kampusnya berada tidak jauh dari lokasi ini
Bangunan ini dulunya adalah tempat penampungan para pedagang yang dilarang berjualan di sepanjang Jalan Abdul Jalil Raya. “Dulunya tanah kosong, kita dulu jualan di sepanjang Jalan Abdul Jalil, lalu kan dilarang, terus kami ditampung sementara di tanah ini, lalu tahun 2000-an dibuatlah Kedai Swadarma ini,” tutur Ujang (43), salah satu pedagang di kawasan itu.
Kedai ini memang ramai pada saat makan siang saja, setelah jam makan siang atau sekitar pukul 15.00, pedagang mulai menutup kiosnya.
Bulan Puasa
Pada saat bulan Puasa, pada pedagang sebagian ada yang memilih berjualan penganan untuk buka puasa seperti kolak dan lontong sayur. “Kalau pas bulan Puasa ada yang tutup trus jualan kolak di sepanjang Jalan Abdul Jalil sampai ke depan BNI 46,” ujar Ujang yang sudah 6 tahun berjualan di situ
Jadi kalau Anda sedang terjebak macet sambil menunggu waktu buka Puasa ada baiknya lewat di Jalan Abdul Jalil Raya ini, karena banyak pilihan makanan untuk membatalkan puasa Anda. (CR2)

Makanan Rumahan di Atas Telaga
Warta Kota/ lilis setyaningsih 
Dibaca : 1954 kali | Komentar: 2
Jika Anda mencari rumah makan sekaligus tempat rekreasi bersama keluarga, Rumah Makan Saung Talaga di Depok bisa menjadi alternatif pilihan. Sesuai namanya, rumah makan ini ada hubungannya dengan talaga.

Tempat makannya memang berada di atas telaga atau danau. Di bawahnya banyak hidup ikan yang berenang ke sana kemari, dan akan bergerombol ketika ada pengunjung yang memberi makan.
Di luar itu, namanya juga rumah makan, tentu pengunjung ingin makan sebelum menikmati fasilitas yang disediakan Saung Talaga yang berada di Jalan Raya Sawangan, Depok, tersebut. Menurut pemilik Saung Talaga, Yani Wisnu (43), makanan yang disediakan adalah makanan rumahan.

”Yang kami sediakan makanan umum, makanan rumahan, bukan khas makanan sunda, misalnya, atau makanan yang istimewa. Jadi kalau di rumah mungkin malas memasak yang dibakar-bakar, kami menyediakan,” katanya ketika ditemui Warta Kota belum lama ini.

Makanan yang tersedia memang tidak asing di lidah kita. Begitu juga harganya relatif standar. Favorit pengunjung Saung Talaga adalah gurami, baik dibakar atau digoreng, dengan harga Rp 7.000/ons. Biasanya satu ekor gurami beratnya 7 ons sampai 1 kilogram (10 ons). Juga ikan mas goreng dan bakar yang harganya Rp 5.000/ons. Berat seekor ikan mas sekitar 6 ons. Ada juga karedok yang harganya Rp 7.000/porsi dan sayur asem Rp 5.000/porsi.

Jika tidak menghendaki ikan, tersedia juga ayam, baik digoreng maupun dibakar, yang harganya Rp 8.000/potong. Ada pula ayam peprek (ayam yang diberi bumbu cabe) yang harganya Rp 12.000/ potong. Aneka sate, baik sate ayam, sate kambing maupun sate sapi, juga tersedia dengan harga Rp 17.500/porsi hingga Rp 20.000/ porsi. Sop iga sapi pun ada, dengan harga Rp 17.500/porsi.

Juga tersedia aneka pepes, dari pepes ikan mas, pepes tahu, pepes jamur, hingga pepes peda. Harganya masing-masing Rp 7.000, Rp 3.000, Rp 4.000, dan Rp 6.000. Total tersedia 28 jenis makanan dan aneka minuman, serta camilan berupa peyek kacang dan kerupuk kulit, serta lalap dan aneka sambal.

Makan dan terhibur

Sementara tempat makannya berupa saung berbentuk memanjang, dihubungkan oleh papan kayu dan bambu. Meja ditata berderet, namun ada celah antarmeja. Tiap satu atau dua meja disediakan wastafel.

Sebagian besar tempat duduk yang tersedia lesehan. Dari 400 kapasitas tempat duduk, hanya sekitar 20 menggunakan kursi panjang. Jika akhir pekan atau libur, tempat duduk yang tersedia hampir selalu penuh.

”Kursi panjang ini sebenarnya cikal bakal Saung Talaga. Namun selanjutnya pengunjung lebih suka makan lesehan. Paling yang makan di kursi adalah ibu hamil, orang gemuk, dan orang tua yang susah untuk duduk lesehan,” kata Yani lagi.

Sebagian besar pengunjung datang ke Saung Talaga tidak sekadar menikmati makanannya saja. Banyak yang berlama-lama menikmati suasana di Saung Talaga. Baik ketika matahari sedang ’garang’ atau hujan turun, berlama-lama di atas saung memang menyejukkan. Apalagi ditiup oleh semilir angin yang ’membawa’ air. Terlebih ada ’hiburan’ ikan, monyet, dan organ tunggal serta perahu.

”Konsepnya memang rumah makan keluarga yang menyediakan makanan rumahan yang memadukan suasana alam pedesaan. Pengunjung bukan cuma makan tapi juga terhibur,” kata Yani. Jadi, makan di Saung Talaga perut kenyang hati senang. Mau apalagi?

Gurihnya Soto Santan Bogor
Warta Kota/Dian Anditya Mutiara 
Dibaca : 613 kali | Komentar: 0
Bogor, Warta Kota
Bila berkunjung ke Kota Bogor, jangan lupa mencicipi gurihnya soto santan yang banyak dijajakan di sana. Makanan itu seolah menjadi makanan khas Kota Hujan. Rasanya yang istimewa akan membuat siapapun ketagihan dan ingin kembali mencicipinya.
Meski banyak pedagang yang menjual soto santan, tapi ada yang beda dari Soto Santan H Djadja yang terletak di Jalan Mawar, Menteng, Bogor. Meski bersantan namun kuahnya sangat encer.
Tempatnya sederhana, hanya menyewa seperempat halaman rumah seorang keturunan Tionghoa. Karena berada persis di pinggir jalan, supaya tidak terlalu berdebu, di sekelilingnya ditutupi kain panjang.
Uniknya lagi, si penjualnya menyiapkan makanannya di bawah. Hanya menggunakan dua meja kecil yang sebenarnya bekas pikulan yang sudah tidak dipakai. Konsumen bisa memilih meja pendek yang berhadapan langsung dengan si pedagang atau di meja yang tinggi.
Sebelum duduk manis, pengunjung diminta terlebih dahulu untuk memilih isi soto yang akan disantap. Ada dua baskom yang berisi potongan kikil dan daging. Semuanya diambil dari bagian kaki dan kepala sapi. Terkadang juga tersedia babat, hanya saja jumlahnya tidak terlalu banyak.
"Babat cuma kita sediakan pada akhir pekan, Sabtu atau Minggu. Karena tidak semua orang suka dan kurang baik buat kesehatan. Jadi hanya sebagai selingan saja. Itu pun karena ada permintaan dari beberapa pelanggan," kata Sakdik, penerus ketiga dari Warung Soto Santan H Djadja.
Di baskom disediakan bambu yang ujungnya diruncingkan, dengan panjang kurang lebih 10 cm, untuk menusuk daging dan kikil yang dipilih. Rata-rata pelanggan yang datang mengambil antara tiga hingga tujuh potong dalam setiap sajian sotonya.
Memang soto ini tidak dijual per porsi, tetapi per potong. Sepotong harganya Rp 3.500. Kikil tersebut diletakkan di dalam piring sehingga Sakdik tinggal memotong-motong kecil.
Selanjutnya diberi taburan daun seledri dan bawang goreng, baru kemudian disiram dengan kuah santan yang tidak terlalu kental. Sedangkan nasi putihnya disajikan di piring terpisah.
Tidak lupa juga diberi taburan emping melinjo atau emping jengkol yang sebungkusnya hanya Rp 2.000. Tapi sebelumnya Sakdik akan menanyakan pelanggan yang bersangkutan, apakah ingin memakai emping tersebut ataukah tidak.
"Karena ada pelanggan yang memang tidak suka atau memang tidak boleh makan emping dengan alasan kesehatan. Makanya saya selalu tanyakan dulu sebelum menaburkannya," ujar ayah tiga anak ini.
Tanpa penyedap rasa
Perlu diketahui juga, kuah santan soto ini tidak menggunakan bumbu penyedap rasa. Air kaldu rebusan dari kaki sapi sudah membuat kuahnya begitu gurih. Tapi bagi orang yang memang menyukai rasa asin, sepertinya kuah yang disajikan kurang begitu pas garamnya. Sebaiknya memang ditambah sedikit lagi garamnya.
Sebagai penyempurna kuahnya bisa ditambahkan cuka atau jeruk limau. Tapi semenjak dahulu, para pelanggan Soto Santan H Djadja hanya suka dengan tambahan cuka. Mereka kurang menyukai jeruk meski menimbulkan aroma yang wangi.  
Warung ini hanya buka pada pagi hari, biasanya pukul 06.00-10.00. Lewat jam itu, bisa-bisa tidak kebagian. Tapi itu juga tergantung situasi, terkadang kalau sedang sepi, hingga pukul 12.00 pun masih buka.
Sakdik mulai memasak kepala dan kaki sejak pukul 14.00 sehari sebelumnya. Untuk mendapatkan kikil yang tidak berbau, dibutuhkan pencucian dan pemasakan yang cukup lama. Karena tidak terlalu percaya kepada pedagang daging, Sakdik lebih memilih untuk membersihkan sendiri bagian kepala dan kaki sapi.
Pencuciannya bisa sampai tiga kali. Setelah itu barulah direbus kurang lebih tiga jam. Sedangkan untuk kuahnya dibuat dadakan sebelum subuh.
Setiap harinya, warung soto ini membutuhkan 12 kg daging dan kikil bagian kepala, 4 kg bagian kulit dan 4 kaki sapi. Pada akhir pekan kebutuhannya meningkat menjadi 17 kg.
Sedangkan untuk nasinya diperlukan 17-18 liter beras per hari, dan kelapa untuk santan 14-15 buah. Kelapa yang digunakan jenis tasik yang lebih wangi. Ketika kuah soto matang, memang agak kental.
Tidak masalah, karena beberapa pelanggan memang suka dengan kuah kental. Tetapi lama kelamaan kuah menjadi encer dengan sendirinya.

PEMPEK ADA SEJARAHNYA LHO

Jumat, 24 September 2010 | 14:51 WIB
Pondokgede, Warta Kota

Pempek atau empek-empek adalah makanan khas hasil warisan kekayaan jenis makanan atau kuliner Nusantara dari Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Terbuat dari ikan dan tepung sagu, yang menghasilkan rasa enak setelah berpadu dengan cuko, bumbu khasnya.
Ketika menyebut pempek orang sering mengiringinya dengan kata Pelembang, sehingga akhirnya nama penganan ini menjadi Pempek Palembang. Tak mengherankan juga, karena di kota Palembang dan sekitarnya pempek bisa ditemukan dengan mudah di berbagai sudut kota. Makanan khas ini dijual di warung-warung kecil atau rumahan di gang-gang; dijajakan dengan cara memikul dan mendorong gerobak pempek yang khas; tersedia di kantin-kantin sekolah dan restoran; dan dijual di pasar-pasar trasisional hingga pusat-pusat perbelanjaan modern.
Namun penyebutan pempek Palembang lebih merupakan penyebutan representatif untuk makanan khas yang sebenarnya diproduksi dan beredar luas di semua wilayah Sumatera bagian selatan. Palembang memang memiliki sejarah panjang, nama besar dan pengaruh di berbagai bidang kehidupan sehingga kota Palembang sering mewakili seluruh wilayah Sumsel dan berbagai wilayah di Sumsel acap disebut Palembang.
Untuk dikonsumsi, pempek biasanya disajikan bersama saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang), disertai bahan pelengkap berupa irisan dadu timun segar dan mie kuning. Kuah cuka pempek ini dibuat dari cuka, gula merah asli Palembang, ebi, cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Dalam satu liter larutan kuah cuka pempek biasanya terkandung 9-13 ppm fluor.
Bagi masyarakat asli Palembang dan sekitarnya, kuah cuka harus memiliki ciri khas manis keasam-asaman sekaligus pedas yang konon membuat banyak orang ketagihan. Ada dua pendapat tentang dampak kuah cuka ini bagi penggemar pempek. Kuah cuka dapat melindungi gigi dari karies atau kerusakan lapisan email dan dentin karena terdapatnya fluor. Ada yang mengatakan sebaliknya, yakni kuah cuka ini dapat menimbulkan karies.
Namun perkembangan jaman dan meluasnya wilayah edar dan penggemar pempek, kini banyak ditemukan pempek yang disajikan dengan kuah cuka yang lebih ringan, dengan rasa lebih manis dan kurang pedas. Penampilan seperti ini bertujuan untuk melayani mereka yang tidak mengenal tradisi asli pempek Palembang.

Satu adonan, beragam bentuk

Jenis pempek atau lebih tepat varian bentuk atau menu yang paling populer ialah pempek kapal selam. Varian bentuk pempek ini dibuat dari tepung sagu yang diadon dengan daging ikan (biasanya tenggiri) yang telah digiling beserta bumbu-bumbu khas, yang dibentuk menyerupai kapal selam dan di dalamnya berisi telur.

Jenis atau bentuk lain yang cukup dikenal ialah lenjer, laksan, tekwan, model, lenggang, dan celimpungan. Berbahan dasar sama dengan jenis kapal selam, pempek lenjer berbentuk silinder, yang digemari oleh penggemar pempek yang ingin merasakan aroma ikan tenggiri murni tanpa telur.

Sedangkan laksan dan celimpungan disajikan dalam kuah yang mengandung santan; sementara model dan tekwan disajikan dalam kuah yang mengandung kuping gajah, kepala udang, dan bumbu lainnya.

Pada dasarnya berbagai varian bentuk pempek berbahan dasar sama. Sebab dari satu adonan pempek dapat dihasilkan berbagai varian bentuk makanan khas yang terpopuler di antara berbagai jenis makanan khas asal Palembang ini. Bentuk atau varian pempek bergantung pada komposisi maupun proses pengolahan akhir dan pola penyajian.

Perkembangan jaman telah menuntut para penjual pempek membuat varian baru sehingga kini muncul antara lain pempek keriting. Bahkan dari segi bahan kini muncul pempek keju, pempek baso sapi, pempek sosis serta lenggang keju yang dipanggang di wajan antilengket.

Sejarah ringkas

Makanan khas bernama pempek yang merupakan ringkasan penyebutan kata empek-empek diyakini telah muncul di Palembang setelah masuknya perantau China ke wilayah Kesultanan Palembang Darussalam, sekitar abad ke-17. Saat itu Kesultanan Palembang berada dibawah kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin II. Pempek diduga, bahkan diyakini, berasal dari kata apek, sebutan untuk lelaki tua keturunan China.

Berdasarkan cerita rakyat, dikisahkan, pada tahun 1617 hiduplah seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di kawasan Perakitan, yang terletak di tepian Sungai Musi. Setiap hari dia melihat pemandangan yang membuatnya perihatin. Tangkapan ikan yang berlimpah dari sungai yang melintasi kota Palembang itu tidak termanfaatkan dengan baik. Masyarakat setempat hanya mengomsumsinya secara terbatas dengan cara menggoreng dan memindangnya.
Setelah berupaya keras mencari jalan keluar, Sang Apek menemukan ide untuk mengolah ikan dengan cara menggiling daging ikan yang berlimpah itu lalu mencampurkan atau mengadonnya dengan tepung singkong atau tapioka, sehingga menjadi makanan baru. Makanan baru ini ini bisa dikonsumsi setelah digoreng lalu dijajakan keliling kota.
Orang-orang yang ingin mengonsumsi makanan baru ini memanggil penjajanya dengan meneriakkan kata "Peeek … Apek!". Berdasarkan bunyi panggilan itu lahirlah jenis makanan yang dikenal dengan nama empek-empek atau pempek. Pempek dikonsumsi dengan kuah cuka yang terbuat dari cuka dan gula merah asli Palembang.
Namun kisah ini perlu diktritisi. Pasalnya singkong baru dikenal di Indonesia setelah bangsa Portugis memperkenalkannya di Nusanatara pada abad ke-16. Sebagai bahan baku tapioka singkong juga baru dibudidayakan secara komersial pada tahun 1810. Selain itu Sultan Mahmud Badaruddin II pun baru lahir pada tahun 1767.
Hanya saja sangat mungkin pempek merupakan hasil pengembangan jenis makanan China seperti baso ikan, kekian, atau ngohyang. Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun karena jenis ikan ini semakin langka digantilah dengan ikan tenggiri dan kemudian ikan gabus yang harganya lebih murah, namun rasanya tetap gurih.
Dalam perkembangannya digunakan juga jenis ikan sungai lainnya seperti ikan putak, toman, dan bujuk dan ikan ikan laut seperti tenggiri, kakap, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Sebuah skripsi yang ditulis oleh seroang mahasiswa di Riau menyebutkan adaya penggunaan ikan lele, tuna putih dan ikan dencis. (Willy Pramudya/dari berbagai sumber).

Selasa, 28 September 2010

PASAR KOTA SOLO

Pasar klewer
Pasar Klewer merupakan salah satu ikon kota solo.pasar ini setiap harinya sangat ramai di kunjungi oleh para pembeli yang datang dari bergai kota.
Pasar klewer juga termasuk tempat yang bersejarah dan memilki seni yang tinggi.dsisin dapat kita temui berbagai macam produksi konveksi yang ada di wilayah solo dan sekitarnya. di sini juga banyak di jual batik dari produk dari solo sendiri maupun daerah lain.
Pasar klewer memang tidak bisa di pisahkan dari kerajinan batik solo,



Kampung Batik Laweyan

       
 Laweyen adalah salah satu sentral Batik di Solo. Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik Solo
 
        Batik merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan. Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik. Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik yang mencapai kejayaannya di era tahun 70-an. Menurut Alpha yang juga pengelola Batik Mahkota,
        Di kawasan Laweyan ada Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Batikan, dan Jongke, yang penduduknya banyak yang menjadi produsen dan pedagang batik, sejak dulu sampai sekarang. Di sinilah tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pribumi, pada tahun 1912.
Bekas kejayaan para saudagar batik pribumi tempo doeloe yang biasa disebut 'Gal Gendhu' ini bisa dilihat dari peninggalan rumah mewahnya. Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik.
Kawasan Laweyan dilewati Jalan Dr Rajiman, yang berada di poros Keraton Kasunanan Surakarta - bekas Keraton Mataram di Kartasura. Dari Jalan Dr Rajiman ini, banyak terlihat tembok tinggi yang menutupi rumah-rumah besar, dengan pintu gerbang besar dari kayu yang disebut regol. Sepintas tak terlalu menarik, bahkan banyak yang kusam. Tapi begitu regol dibuka, barulah tampak bangunan rumah besar dengan arsitektur yang indah. Biasanya terdiri dari bangunan utama di tengah, bangunan sayap di kanan-kirinya, dan bangunan pendukung di belakangnya, serta halaman depan yang luas.

Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu mau menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya, meski dalam skala yang mini. Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah rumah besar bekas saudagar batik yang terletak di pinggir Jalan Dr Rajiman, yang dirawat dan dijadikan homestay Roemahkoe yang dilengkapi restoran Lestari.
Tentu saja tak semuanya bisa membangun "istana" yang luas, karena di kanan-kirinya adalah lahan tetangga yang juga membangun "istana"-nya sendiri-sendiri. Alhasil, kawasan ini dipenuhi dengan berbagai istana mini, yang hanya dipisahkan oleh tembok tinggi dan gang-gang sempit. Semangat berlomba membangun rumah mewah ini tampaknya mengabaikan pentingnya ruang publik. Jalan-jalan kampung menjadi sangat sempit. Terbentuklah banyak gang dengan lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang atau sepeda motor.
Tapi di sinilah uniknya. Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno ini sangat mengasyikkan. Kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo doeloe. Pola lorong-lorong sempit yang diapit tembok rumah gedongan yang tinggi semacam ini juga terdapat di kawasan Kauman, Kemlayan, dan Pasar Kliwon. Karena mengasyikkan, menelusuri lorong-lorong sejarah kejayaan Laweyan yang eksotis ini bisa menghabiskan waktu. Apalagi jika Anda melongok ke dalam, melihat isi dan keindahan ornamen semua "istana" di kawasan ini.
Tapi sayangnya satu per satu bangunan kuno yang berarsitektur cantik, hancur digempur zaman, digantikan ruko atau bangunan komersial baru yang arsitekturnya sama sekali tidak jelas. Pemerintah daerah setempat tak bertindak apa pun menghadapi kerusakan artefak sejarah ini. Bahkan bekas rumah Ketua Sarekat Dagang Islam H. Samanhoedi, yang seharusnya dilindungi sebagai saksi sejarah, sudah tidak utuh lagi, bagian depannya digempur habis. Bekas istana Mataram di Kartasura juga dibiarkan hancur berantakan.



Kampung Batik kauman

Selain laweyan kauman juga merupakan sentra industri batik di solo,
Ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun dipamerkan di sejumlah
sudut rumah kayu khas Jawa, yang juga sudah uzur.Berbagai peralatan membatik yang usianya tak kalah tua juga ada di rumah itu. Untuk menggambarkan kejayaan industri batik tempo dulu dipajang pula ratusan cap yang menandai produsen batik masa itu.
Gambaran itulah yang dapat ditemui saat mengunjungi Museum Batik Kaoeman. Museum ini terletak di sebuah sudut Kampung Kauman yang menjadi satu sentra batik di Kota Solo. Keberadaannya terasa tepat di tengah perkampungan yang sejak dulu hidup dari industri batik khas Solo.
Bunga matahari, puspita, sedep malem, anggur, dan pisang bali, adalah sebagian dari cap batik yang dipajang di dinding kayu saat Kompas menapak di beranda rumah yang dijadikan museum itu, pekan lalu. Cap batik pernah mewarnai industri batik puluhan tahun lalu.
Memasuki ruang utama, nuansa Jawa tempo dulu sungguh terasa. Lemari kayu berukir yang terlihat klasik menempati beberapa sudut ruang. Lembaran kain batik dalam berbagai motif ditaruh di dalamnya. Kain kuno juga dipamerkan di meja, kayu panjang, dan kayu terikat tali yang digantung di atap. Semuanya diberi label untuk menerangkan setiap motif kain batik itu.
"Museum ini lebih dimaksudkan nguri-uri budaya, yaitu batik Solo. Di sini masyarakat dapat melihat dan mempelajari sejarah batik Kauman khususnya, dan batik Solo serta turunannya," kata pengelola Museum Batik Kaoeman Gunawan Setiawan.
Untuk tujuan pembelajaran itu, koleksi museum juga dilengkapi peralatan yang digunakan untuk membatik. Alat pres batik dari besi yang digunakan tahun 1940-an ada juga di sana. Ini dipakai untuk merapikan batik yang akan dikemas dalam jumlah banyak. Tak kalah unik adalah alat giling batik dari besi masa 1920-an. Sejumlah alat stempel kuno pun dipamerkan.
Alat produksi batik lainnya dapat ditemukan di lantai II bangunan di sebelahnya. Berbagai stempel motif untuk membuat batik cap ada di ruangan itu. Alat pres besar dari masa lalu, tetapi kali ini terbuat dari kayu, berdiri kokoh di dekat dinding.
Di tengah acara berkeliling kampung melihat proses produksi dan berburu batik, kunjungan ke museum ini akan memperkaya wawasan tentang sejarah batik di Solo, terutama batik Kauman. Apalagi, koleksi di museum ini merupakan milik warga Kampung Kauman yang sejak dahulu membuat batik. (Sugihandari/Litbang Kompas)

 WISATA WONOGIRI
  • Pantai Sembukan
Kabupaten Wonogiri merupakan satu-satunya Kabupaten/kota di wilayah Surakarta yang memiliki pantai.
Pantai Sembukan terletak di Kecamatan Paranggupito kurang lebih 40 Km arah selatan Kota Wonogiri atau 2 jam perjalanan.
Pantai Sembukan terkenal sebagai pantai ritual yang ramai dikunjungi orang untuk bermeditasi dan ngalab berkah.
Pantai sembukan yang jaraknya dari Kantor Kecamatan Parnggupito kurang lebih berjarak 3,5 km, juga pada waktu-waktu tertentu diadakan acara larung yang juga dilanjutkan dengan acara wayangan. Jika ingin berwisata di pantai sembukan jangan lupa membawa kail karena disana banyak orang yang mengail mencari ikan sambil menikmati indahnya pemandangan alam laut yang menawan. Disamping itu juga ada tempat peribadatan yang ada di puncak gunung yang terletak tidak jauh dari pantai Sembukan tersebut.
  • Pantai Nampu
Pantai Nampu sangat elok dan alami dengan hamparan pasir putih dan pantai yang sangat panjang cocok untuk rekreasi keluarga dengan minuman kas air kelapa muda. Jarak dari Kecamatan Paranggupito kurang lebih 15 km. disamping itu ditepi pantai juga ada sumber mata air, sehingga apabila sehabis bermain di pantai bisa langsung mandi dengan air tawar yang ada di dekat pantai tersebut.
  • Hutan Kethu
Obyek Wisata Alas Kethu terletak ditengah-tengah jantung Kota Wonogiri dengan panorama hutan jati, mahoni dan kayu putih seluas kurang lebih 40 Ha selain sebagai tempat wisata juga sebagai paru-paru kota Wonogiri dengan tumbuhan yang besar-besar dan rindang.
Alas Kethu sangat cocok untuk shoting pembuatan film dan sinetron laga, karena dekat dengan keraton Surakarta dan Mangkunegaran, selain itu akses untuk mencapai lokasi sangat mudah untuk dijangkau.
  • Air Terjun Setren
Air Terjun Setren merupakan obyek wisata pilihan yang tidak kalah menariknya dengan Air Terjun Tawangmangu, terletak di Kecamatan Slogohimo kurang lebih 30 Km arah timur Kota Wonogiri menuju Ponorogo (Jawa Timur). Pemandangan yang masih alami dengan panorama perbukitan dan air terjun, agrowisata sangat tepat untuk wisata kalangan muda-mudi dan para pecinta alam.
Goa Putri Kencana
  • Goa Putri Kencana
Goa Putri Kencono terletak di Desa Wonodadi Kecamatan Pracimantoro berjarak 40 km dar kota Wonogiri. Yang mempunyai keindahan yang sangat bagus serta unik karena mempunyai Luas sekitar kurang lebih 1.000 m2 dan tembus pada bukit yang ada di sebaliknya bukit. Tempat ini memiliki kelebihan berupa keindahan stalagtit dan stalagmit. Jarak antara goa Putri Kencana dengan Kecamatan Pracimantoro kurang lebih 9 Km.

BATIK SOLO

Solo Sebuah kota di Jawa tengah yang masih lekat sekali dengan budaya Jawa. Dengan slogan SOLO the Spirit of Java.Solo bertekad terus menjaga dan melestarikan budaya jawa.

         Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik terkenal di Indonesia. Di sini banyak sekali terdapat sentra kain batik, yang tersohor antara lain kawasan Kampung Batik Laweyan dan kawasan Kampung Wisata Batik Kauman.Batik adalah salah satu produk kota dan telah menjadi Icon kota solo.khas batik solo sudah di kenal di seluruh Indonesia dan menjadi produk andalan export.

         Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

-------------------------------------------------------------------------
Kampung Batik Laweyan

       
 Laweyen adalah salah satu sentral Batik di Solo. Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik Solo
       Batik merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan. Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik. Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik yang mencapai kejayaannya di era tahun 70-an. Menurut Alpha yang juga pengelola Batik Mahkota,


Kampung Batik Laweyan

       
 Laweyen adalah salah satu sentral Batik di Solo. Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik Solo
 
Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.
Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.
Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.
Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.
Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.
Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.
Jaman Penyebaran Islam
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat Batik. Disebutkan masalah seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan.
Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.
Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni bafik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.
Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain; pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kainputihnyajugamemakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import bam dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.
Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.
Batik Solo dan Yogyakarta
Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.
Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.
Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan raj any a Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.
Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasny a daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.
Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.
Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkem-bang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.
Perkembangan Batik di Kota-kota lain
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesa-inya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menet-ap didaerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewama dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.
Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-XIX berhubungan langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik. .
Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitara daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-XIX. Perkembangan pembatikan didaerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo.
Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah kedaerah-daerah luar Yogya dan Solo karena tidak mau kejasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya kedaerah baru itu dan ditempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian.
Corak batik di daerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnya. Pekalongan khususnya dilihat dari proses dan designya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad ke-XX proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris.
Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula.
Sedang pembatikan dikenal di Tegal akhir abad ke-XIX dan bahwa yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis disamping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.
Pada awal abad ke-XX sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik-pembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang dunia kedua. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi.
Demikian pila sejarah pembatikan di Purworejo bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-XI. Pekembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya.
Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen-Klaten yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak dikaki gunung tetapi tanahnya gersang dan minus. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan disini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah kerajaan kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu yaitu “makam Sunan Bayat” di atas gunung Jabarkat. Jadi pembatikan didesa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerjaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo.
Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-XIX yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain yang dikenal ialah: PenghuluNusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.
Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah didesa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.
Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun dari terdahulu, maka diperkirakan didaerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna un-tuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan dikerja-kan ialah: Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.
Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak dipinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-XVII dan awal abad ke-XVIII akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Ba-nyumas dan Kudus yang merantau kedaerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju kearah Barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembutan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.
Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluargany a dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.
Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-XX pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaintannya dengan kerajaan yang ada di aerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja jaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-XIII. Ini ada kaitannya dengan corak-corak batik di atas tenunan. Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhioleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.

Minggu, 26 September 2010

sejarah kota solo

Pendirian dan perkembangan
Surakarta berkembang dari wilayah suatu desa bernama Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Sarjana Belanda yang meneliti Naskah Bujangga Manik, J. Noorduyn, menduga bahwa Desa Sala ini berada di dekat (kalau bukan memang di sana) salah satu tempat penyeberangan ("penambangan") di Bengawan Solo yang disebut-sebut dalam pelat tembaga "Piagam Trowulan I" (1358, dalam bahasa Inggris disebut "Ferry Charter") sebagai "Wulayu". Naskah Perjalanan Bujangga Manik yang berasal dari sekitar akir abad ke-15 menyebutkan bahwa sang tokoh menyeberangi "Ci Wuluyu". Pada abad ke-17 di tempat ini juga dilaporkan terdapat penyeberangan di daerah "Semanggi"[2] (sekarang masih menjadi nama kampung/kelurahan di Kecamatan Pasarkliwon).
Kejadian yang memicu pendirian kota ini adalah berkobarnya pemberontakan Sunan Kuning ("Gègèr Pacinan") pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono (PB) II, raja Kartasura tahun 1742. Pemberontakan dapat ditumpas dengan bantuan VOC dan keraton Kartasura dapat direbut kembali, namun dengan pengorbanan hilangnya beberapa wilayah warisan Mataram sebagai imbalan untuk bantuan yang diberikan VOC. Bangunan keraton sudah hancur dan dianggap "tercemar". Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Honggowongso (bernama kecil Joko Sangrib atau Kentol Surawijaya, kelak diberi gelar Tumenggung Arungbinang I) dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di tepi Bengawan Solo. Nama "Surakarta" diberikan sebagai nama "wisuda" bagi pusat pemerintahan baru ini. (Catatan-catatan lama menyebut bentuk antara "Salakarta"[3]). Pembangunan keraton ini menurut catatan[siapa?] menggunakan bahan kayu jati dari kawasan Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri Kota dan kayunya dihanyutkan melalui Bengawan Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17 Februari 1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku Landep, Windu Sancaya).

Masa Perang Kemerdekaan 1945-1949

Situasi di Solo (dan wilayah pengaruhnya) pada masa ini sangat menyedihkan. Terjadi sejumlah peristiwa politik yang menjadikan wilayah Solo kehilangan hak otonominya; nasib yang berbeda dengan Yogyakarta.

[sunting] D.I. Surakarta dan Pemberontakan Tan Malaka

Begitu mendengar pengumuman tentang kemerdekaan RI, pemimpin Mangkunegaran (Mangkunegara VIII dan Susuhunan Sala (Pakubuwana XII) mengirim kabar dukungan ke Presiden RI Soekarno dan menyatakan bahwa wilayah Surakarta (Mangkunegaran dan Kasunanan) adalah bagian dari RI. Sebagai reaksi atas pengakuan ini, Presiden RI Soekarno menetapkan pembentukan propinsi Daerah Istimewa Surakarta (DIS).[rujukan?]
Pada Oktober 1945, terbentuk gerakan swapraja/anti-monarki/anti-feodal di Surakarta, yang salah satu pimpinannya adalah Tan Malaka, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuan gerakan ini adalah membubarkan DIS, dan menghapus Mangkunegaran dan Kasunanan. Gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai Pemberontakan Tan Malaka. Motif lain adalah perampasan tanah-tanah pertanian yang dikuasai kedua monarki untuk dibagi-bagi ke petani (landreform) oleh gerakan komunis.[rujukan?]
Tanggal 17 Oktober 1945, wazir (penasihat raja) Susuhunan, KRMH Sosrodiningrat diculik dan dibunuh oleh gerakan Swapraja. Hal ini diikuti oleh pencopotan bupati-bupati di wilayah Surakarta yang merupakan kerabat Mangkunegara dan Susuhunan. Bulan Maret 1946, wazir yang baru, KRMT Yudonagoro, juga diculik dan dibunuh gerakan Swapraja. Pada bulan April 1946, sembilan pejabat Kepatihan juga mengalami hal yang sama.
Karena banyaknya kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan, maka tanggal 16 Juni 1946 pemerintah RI membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan politik Mangkunegaran dan Kasunanan. Sejak saat itu keduanya kehilangan hak otonom menjadi suatu keluarga/trah biasa dan keraton/istana berubah fungsi sebagai tempat pengembangan seni dan budaya Jawa. Keputusan ini juga mengawali kota Solo di bawah satu administrasi. Selanjutnya dibentuk Karesidenan Surakarta yang mencakup wilayah-wilayah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, termasuk kota swapraja Surakarta. Tanggal 16 Juni diperingati setiap tahun sebagai hari kelahiran kota Surakarta.
Tanggal 26 Juni 1946 terjadi penculikan terhadap PM Sutan Syahrir di Surakarta oleh sebuah kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka, dari Partai Komunis Indonesia. PM Syahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras. Presiden Soekarno sangat marah atas aksi pemberontakan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan pemberontak. Tanggal 1 Juli 1946, ke 14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan. Namun, pada tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14-pimpinan pemberontak.
Presiden Soekarno lalu memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak. Namun demikian Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (bahasa Belanda koppig).[4]
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden, setelah Letkol. Soeharto berhasil membujuk mereka untuk menghadap Presiden Soekarno. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal. PM Syahrir berhasil dibebaskan dan Mayjen Soedarsono serta pimpinan pemberontak dihukum penjara walaupun beberapa bulan kemudian para pemberontak diampuni oleh Presiden Soekarno dan dibebaskan dari penjara.

[sunting] Serangan Umum 7 Agustus 1949

Dari tahun 1945 sampai 1948, Belanda berhasil menguasai kembali sebagian besar wilayah Indonesia (termasuk Jawa), kecuali Yogyakarta, Surakarta dan daerah-daerah sekitarnya.
Pada Desember 1948, Belanda menyerbu wilayah RI yang tersisa, mendudukinya dan menyatakan RI sudah hancur dan tidak ada lagi. Jendral Soedirman menolak menyerah dan mulai bergerilya di hutan-hutan dan desa-desa di sekitar kota Yogyakarta dan Surakarta.
Untuk membantah klaim Belanda, maka Jendral Soedirman merencanakan "Serangan Oemoem" yaitu serangan besar-besaran yang bertujuan menduduki kota Yogyakarta dan Surakarta selama beberapa jam. "Serangan Oemoem" di Surakarta terjadi pada tanggal 7 Agustus 1949 dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi. Untuk memperingati peristiwa ini maka jalan utama di kota Surakarta dinamakan "Jalan Slamet Riyadi".
Kepemimpinan Slamet Riyadi - yang gugur di pertempuran melawan gerakan separatis RMS - pada Serangan Umum ini sangat mengejutkan pimpinan tentara Belanda (Van Ohl ?), yang sempat berkata Slamet Riyadi lebih pantas menjadi anaknya, ketika acara penyerahan kota Solo.

Budaya

Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "gaya Surakarta" dan "gaya Yogyakarta" di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

Bahasa

Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah bahasa Jawa dialek Mataraman (Jawa Tengahan) dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman/Jawa Tengahan juga dituturkan di daerah Yogyakarta, Magelang timur, Semarang, Pati, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai "varian halus" karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata "inggih" ("ya" bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya "injih" (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya

Tarian

Solo memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Solo. Tarian seperti Bedhaya Ketawang secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Pakoe Boewono sebagai pemimpin Kota Surakarta

Batik

Batik adalah kain dengan corak tertentu yang dihasilkan dari bahan malam (wax) yang dituliskan di kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Solo memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.[10] Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris dan Batik Danarhadi. Pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung batik Laweyan.
Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman.

Makanan
Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional yang lezat. Beberapa makanan khas Surakarta antara lain: Nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg (sedikit berbeda dengan gudeg Yogyakarta), cabuk rambak, serabi Notosuman, intip, bakpia Balong, roti mandarin toko kue Orion, wedang asle yaitu minuman hangat dengan nasi ketan, dll.